Pertolongan Pertama pada Korban Tersengat Listrik: Menit-Menit Kritis yang Menentukan Hidup dan Mati
- Jatim Raya Group
- Dec 16, 2025
- 3 min read

Kecelakaan listrik bisa terjadi di mana saja—rumah, ruko, gudang, hingga pabrik. Masalahnya, pada kasus kesetrum, tindakan penolong yang salah (misalnya memegang korban saat arus masih mengalir) justru sering menambah korban. Panduan pertolongan pertama modern menekankan dua hal: amankan sumber listrik dulu, lalu lakukan evaluasi dan resusitasi secepat mungkin.
Artikel ini membahas langkah yang benar, berapa lama “waktu emas” untuk menyelamatkan korban, kenapa korban yang tampak “baik-baik saja” tetap perlu diperiksa, dan contoh ekstrem “kursi listrik” hanya sebagai ilustrasi fisiologi—bukan dukungan terhadap hukuman mati.
1) Langkah pertama: putuskan sumber listrik (jangan sentuh korban dulu)
Aturan paling penting: jangan menyentuh korban sebelum listrik benar-benar terputus.
Urutan yang aman:
Matikan listrik di panel/MCB utama. Jika ada RCD/ELCB, mematikannya juga membantu memutus rangkaian kebocoran arus. (Prinsip: hentikan arus secepat mungkin.)
Jika tidak bisa mematikan, pisahkan korban dari sumber listrik menggunakan benda isolator kering (kayu kering/plastik/karet). Jangan gunakan logam atau benda basah.
Pastikan penolong berdiri di permukaan kering dan tidak menyentuh benda logam di sekitar sumber arus.
Kenapa ini krusial? Karena tubuh basah/berkeringat menurunkan resistansi sehingga arus lebih mudah “melewati” tubuh—termasuk jalur berbahaya yang melintasi dada (jantung).
2) Setelah aman: evaluasi ABC (Airway–Breathing–Circulation)
Begitu yakin sumber listrik terputus:
Cek respons/kesadaran (panggil, goyang lembut bahu).
Cek napas (lihat gerak dada, dengar/rasakan hembusan napas ±10 detik).
Jika korban tidak bernapas normal, anggap keadaan gawat dan mulai CPR serta minta orang lain menghubungi layanan darurat.
3) “Berapa lama kita punya waktu untuk menyelamatkan korban?”
Secara logika medis, targetnya adalah mengembalikan oksigen ke otak dan perfusi jantung secepat mungkin.
Patokan yang paling berguna untuk edukasi awam:
Kerusakan otak mulai meningkat tajam setelah ±4–6 menit tanpa oksigen.
Tanpa CPR, risiko kerusakan otak besar setelah >5 menit, dan kematian makin mungkin bila berlanjut >8 menit.
Cara membaca “waktu emas” secara praktis:
0–1 menit: peluang terbaik (bila arus sudah putus, segera nilai napas dan mulai CPR jika perlu).
1–4 menit: masih sangat mungkin tertolong jika CPR cepat dan berkualitas.
4–8 menit: risiko cacat neurologis naik cepat—tapi CPR tetap wajib.
>10 menit tanpa CPR: peluang hidup turun drastis (bukan berarti boleh berhenti, tapi ekspektasi realistis).
4) Kenapa korban yang “sadar lagi” tetap harus diperiksa dokter?
Sengatan listrik dapat memicu gangguan irama jantung (aritmia)—bisa muncul segera atau beberapa waktu setelah kejadian. Karena itu, pedoman klinis menekankan kewaspadaan terhadap keluhan seperti pingsan, nyeri dada, sesak, denyut tidak teratur, atau “lemas aneh” setelah kesetrum.
Intinya: jangan puas karena korban sudah bangun. Jika sengatan melibatkan tegangan jaringan, kontak lama, atau lintasan arus melewati dada, pemeriksaan (misalnya EKG) dan observasi medis sangat dianjurkan.
5) CPR singkat untuk awam
Garis besar yang konsisten di berbagai panduan:
Pastikan korban di permukaan datar dan aman.
Lakukan kompresi dada cepat dan dalam (umumnya 100–120/menit, kedalaman sekitar 5–6 cm untuk dewasa).
Jika tidak terlatih napas bantuan, hands-only CPR lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.
6) Contoh ekstrem: kursi listrik (sekadar ilustrasi fisiologi)
Dalam sejarah, kursi listrik menggunakan tegangan sangat tinggi dan arus besar untuk menghentikan fungsi vital. Catatan referensi populer menyebut orde ribuan volt dan arus hingga beberapa ampere pada konteks eksekusi. Ini menunjukkan bahwa respons tubuh terhadap listrik bisa fatal—dan pada skala rumah tangga pun tetap berbahaya jika arus melewati jantung atau durasinya cukup lama.
7) Pencegahan: “tameng pertama” sebelum pertolongan pertama
Pertolongan pertama menyelamatkan nyawa—namun pencegahan mencegah tragedi berulang:
Gunakan kabel berstandar untuk instalasi tetap (misalnya tipe NYA/NYM/NYAF/NYY/NYMHY yang tercantum bersertifikasi SNI pada katalog produk).
Rapikan jalur kabel dengan pipa conduit/ducting, hindari kabel terbuka.
Pastikan panel proteksi (MCB dan perangkat proteksi kebocoran arus seperti RCD/ELCB) terpasang sesuai beban dan diuji berkala.
Referensi tautan
https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-electrical-shock/basics/art-20056695
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/electric-shock-injury
https://www.ifrc.org/document/international-first-aid-resuscitation-and-education-guidelines
https://www.msdmanuals.com/home/heart-and-blood-vessel-disorders/cardiac-arrest-and-cardiopulmonary-resuscitation-cpr/cardiac-arrest-and-cardiopulmonary-resuscitation-cpr
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6652167/
https://en.wikipedia.org/wiki/Electric_chair
https://www.encyclopedia.com/law/educational-magazines/execution-electrocution



Comments